Khitbah, Nikah, dan Ah Sudahlah

Berbicara tentang "nikah", tidak akan ada habisnya. Memang topik bahasan ini sungguh sangat menarik untuk diperbincangkan ataupun sekedar sebagai bahan bully-an khususnya bagi para fakir asmara dan siapapun yang tengah mengalami dahaga cinta.

Seperti malam ini, saya bersama seorang teman sejawat yang biasa(nya) rajin menghadiri kondangan sebagai single fighter sebut saja namanya mister-X, kami terlibat saling komen di jejaring (a)sosial kreasi Mak Zukenbereg yang akhirnya menghasilkan rangkaian quote yang kurang memotivasi. Berikut adalah rekonstruksinya

(1) "Jangan mengharap nikah kalau belum bisa khitbah"

(2) "Jangan mengharap nikah jika sudah ditolak waktu khitbah"

(3) "Dan jangan mengharap khitbah kalau sudah ada orang lain yang lebih dulu mengajak si dia nikah"

Bagian akhirnya sungguh sangat tidak memotivasi bukan? Demikianlah ke-satir-an kami yang absurd. Namun ternyata di balik quote-quote demotivasi tersebut tersimpan sebuah motivasi sebagaimana saya uraikan berikut.

Nikah dan khitbah, dua hal yang tidak bisa dipisah. Satu dengan yang lain (diharapkan) saling melengkapi. Berawal dari khitbah, kemudian berlanjut nikah. Walaupun tak sedikit juga yang khitbahnya belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Berbahagialah dan (tentu saja harus) bersyukurlah wahai para lelaki yang telah berhasil mentautkan khitbah dengan nikah mengingat masih sangat banyak laki-laki yang sering goyah karena tak berani melangkah.

Begitulah, mungkin salah satu dari sampeyan masuk ke dalam kategori lelaki yang belum berani melangkah tersebut, masih memendam dalam-dalam perasaan yang selalu membuncah.

Lalu harus bagaimanakah?
Mohon bersabar, ini ujian, ini adalah perjuangan.
Wis mas, cukup ojo kuwi terus kata-katane.

Kalau sampeyan memendam itu karena wedi ditolak, selamat, minimal sampeyan masih normal. Hal ini sangat manusiawi, sudah menjadi takdir seorang lelaki untuk mengalami berbagai penolakan, termasuk penolakan oleh de'e. Dan rasa takut itu sangat manusiawi, alam bawah sadar sampeyan tengah menjalankan sebuah mekanisme preventif untuk mencegah luka dalam karena harus menerima kalimat normatif yang membungkus sebuah keengganan.

Namun ketahuilah, tidak semua penolakan itu harus dihindari. Kadang, itulah yang terbaik. Mari kita tengok kembali quote ke-3 yang telah saya tulis di atas tadi. Setidaknya ketika sampeyan berani melangkah untuk mengkhitbah, minimal sampeyan sudah tidak begitu gelo ketika sebagian dari apa yang tertulis di quote ke-3 itu (terpaksa harus) terjadi. Minimal sampeyan sudah pernah berjuang. Jadi tunggu apa lagi, nikahilah! Eh maksud saya khitbah dululah baru nikah.

Comments