Mengenang Pakpuh Ratno

Setelah pemerintah mengumumkan hari raya Idulfitri 1440H jatuh hari Rabu 5 Juni 2019, malem ini suara takbir terdengar sahut menyahut. Sejumlah hal saya alami hari ini, anggap saja postingan ini adalah semacam curcol saya.
Pagi ini ada berita duka, kami sekeluarga mendapat kabar Pakpuh Ratno meninggal. Pakpuh adalah kakak laki-laki tertua di keluarga ibuk. Ibuk sering menceritakan tentang pakpuh yang sejak kecil dirawat oleh keluarga yang dijadikan tempat ngekosnya. Pada jaman dulu lazim seorang anak dianggap sebagai anak sendiri, atau bahkan diangkat sebagai anak, oleh keluarga yang ditempati ketika merantau (biasanya anak muda jaman dulu sudah mulai merantau sejak usia sekolah).
Kisah hidup pakpuh membawa beliau hingga ke ibu kota, di sana beliau sempat bekerja di Peruri. Ibuk yang pada waktu itu masih kecil tidak pernah mengalami masa kecil bersama dengan pakpuh, pakpuh sudah hidup terpisah dengan keluarga ketika ibu baru lahir. Ibuk adalah anak kedua dari belakang, sedagkang pakpuh adalah anak pertama. Mbah punya sembilan aak kalau tidak salah. Jarak usia ibuk dengan pakpuh cukup jauh, lebih dari 20 tahun.
Komunikasi pada zaman dulu yang belum secanggih sekarang membuat ibuk hanya mendengar dari mbah kalau ibuk punya mas yang kerja di Jakarta. Setiap mendengar cerita orang pada zaman dulu saya selalu takjub bagaimana uletnya orang pada zaman itu menaklukkan kesulitan. Pakpuh yang awalnya bekerja di bagian pencetakan uang sempat mengikuti tes untuk menjadi security di Peruri. Sampai pensiun beliau menepati pos tersebut. Beliau sering memberi kabar ke kakek setiap habis mengawal pengiriman uang dari Peruri ke sejumlah bank di daerah.
Saya sempat beberapa kali bertemu dengan pakpuh, di keluarga ibuk beliau dihormati sebagai orang yang paling tua. Di akhir hayatnya beliau menetap di Purwokerto, istri pakpuh berasal dari kota tersebut. Pakpuh menghabiskan usia pensiun di daerah lereng gunung Slamet.
Sayang kami belum dapat hadir langsung hari ini untuk melepas kepergian beliau. Selamat jalan pakpuh, kami turut mendo'akan.

Comments