Tentang Desil
Masih tentang desil (pembahasan yang sangat sederhana).
Menurut ilmu statistika (https://lmsspada.kemdiktisaintek.go.id/pluginfile.php/792054/mod_resource/content/1/KUARTIL%20DESIL%20PERSENTIL.pdf), desil membagi data menjadi 10 kelompok yang jumlahnya sama besar.
Menurut data hasil sensus penduduk tahun 2020 yang dirilis BPS (https://sensus.bps.go.id/main/index/sp2020), jumlah penduduk Indonesia mencapai 270.203.917, kita sederhanakan saja menjadi 270 juta.
Kalau mau buat desil untuk mengukur kesejahteraan penduduk Indonesia, harus didefinisikan dulu parameternya apa. Nah sayangnya parameter untuk keperluan mengukur kesejahteraan ini masih abu-abu, belum pernah ada dokumen resmi yang dibagikan pemerintah untuk mengukur kesejahteraan penduduk. Salah satu sumber yang yang temukan dari detik (https://www.detik.com/jabar/jabar-gaskeun/d-8617877/pengertian-kategori-desil-1-10-cara-mengecek-status-dan-langkah-merubahnya) : "Posisi desil seseorang atau keluarga tidak hanya ditentukan berdasarkan penghasilan bulanan. Pemerintah mempertimbangkan berbagai kondisi yang dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan, seperti keadaan rumah, pekerjaan, pendidikan, konsumsi listrik, serta kepemilikan aset tertentu." parameternya banyak, demikian pula untuk setiap parameter apakah bobotnya sama atau berbeda juga belum jelas. Jadi bisa dikatakan mustahil untuk menghitung sendiri tingkat kesejahteraan karena parameternya belum jelas.
Nah karena mau menghitung sendiri berdasarkan parameter yang ditetapkan pemerintah itu masih mustahil, kita sederhanakan saja (dislaimer: ini hanya untuk simulasi, bukan menunjukkan penghitungan desil DTSEN yang dilakukan pemerintah) kita anggap desil dihitung berdasarkan pendapatan per bulan. Berdasarkan pengamatan saya, ada orang bergaji UMR Ngawi saya bulatkan 2,6 juta masuk desil 10. Ada pula orang dengan pendapatan 6 juta masuk desil 10. Kemudian karena desil 10 adalah desil tertinggi, konglomerat yang bisa dapat ratusan atau bahkan milyaran rupiah per bulan juga masuk desil 10.
Yang mau saya tekankan di sini adalah adanya ketimpangan, selisih kesejahteraan yang sangat jauh: Data harus diurutkan dulu sebelum dibuat desilnya, artinya kalau kita asumsikan desil itu berdasarkan pendapatan maka di desil 10 adalah kelompok tertinggi, sedangkan desil 1-9 lebih rendah dari desil 10. Urutannya : desil 1 berisi 27 juta penduduk Indonesia dengan jumlah pendapatan terendah, desil 2 berisi 27 juta penduduk Indonesia yg pendapatannya lebih tinggi dari desil 1, desil 3 berisi 27 juta penduduk Indonesia yg pendapatannya lebih tinggi dari desil 2, dan seterusnya (setiap desil isinya 27 juta = 270 juta penduduk indonesia dibagi 10 karena ada 10 desil). Nah yang menarik, anggap saja orang paling miskin di desil 10 gajinya 2,6 juta artinya ada 9 x 27 juta = 243 penduduk yang gajinya kurang dari 2,6 juta per bulan. *cek dislaimer, ini hanya asumsi untuk simulasi* Artinya apa, masih sangat banyak orang yang berpenghasilan kurang layak, di desil 10 yang dianggap orang yg paling mampu isinya hanya 27 juta atau hanya 10% dari total penduduk Indonesia, masih terlalu sedikit orang yang berpengahasilan wajar (saya anggap gaji UMR itu sebagai gaji wajar). Nah yang lebih menarik di desil 10 itu juga ada orang-orang super kaya yang bisa dapat ratusan juta atau bahkan milayan per bulan. Tadi kita asumsikan di desil 10 penghasilan paling kecilnya 2,6 juta kemudian loncat ada orang berpenghasilan ratusan hingga milyaran per bulan. Orang berpenghasilan jumbo ini jumlahnya tidak banyak, hanya minoritas, namun bikin selisih penghasilan dalam desil 10 menjadi terlalu jauh. Inilah potret ketimpangan kesejahteraan yang sekarang terjadi, penghasilan UMR sudah dianggap sangat sejahtera, namun sekaligus dianggap sama sejahteranya dengan konglomerat karena desilnya sama. Sekali lagi ini hanya simulasi sederhana, kategori desil dalam DTSEN aslinya seperti apa belum bisa dijelaskan karena memang belum pernah dibagikan cara menghitungnya oleh pihak terkait.
Comments
Post a Comment