Pembahasan UAS Mata Kuliah Pengembangan Aplikasi Bergerak

Soal no. 1 Pembahasan soal no. 1 Mendistribusikan aplikasi yang dibuat orang lain memiliki resiko yang besar terhadap akun Google Play yang kita miliki. Aplikasi yang dibuat orang lain bisa saja memuat malware ataupun konten yang tidak sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh Google, apabila hal tersebut ada di aplikasi yang diminta untuk kita upload, akun Google Play yang kita miliki dapat dibanned oleh Google. Jadi tidak disarankan untuk menggunakan akun Google Play developer untuk mengupload aplikasi yang dibuat oleh orang lain tanpa memastikan source code dan konten yang ada di dalamnya. Apabila tetap ingin mengunggah aplikasi yang dibuat oleh orang lain sebaiknya gunakan akun baru yang terpisah dari akun yang biasa kita gunakan. Soal no. 2 Pembahasan soal no. 2 Tracking aktivitas user di smartphone lazim digunakan untuk menghadirkan iklan yang terpersonalisasi, atau iklan yang sesuai dengan preferensi user. Hal ini akan meningkatkan peluang sebuah iklan diklik oleh user karena mem

Membuat Game Pong dengan Framework Love2D (1)

Tutorial ini adalah lanjutan dari tutorial sebelumnya https://www.ardhi.web.id/2020/07/membuat-game-pong-dengan-framework.html.

Kita tambahkan code berikut ke file main.lua
-- push is a library that will allow us to draw our game at a virtual
-- resolution, instead of however large our window is; used to provide
-- a more retro aesthetic
--
-- https://github.com/Ulydev/push
push = require 'push'
Tambahkan code tersebut di atas baris yang memuat
WINDOW_WIDTH = 1280
Kemudian tambahkan dua konstanta yaitu VIRTUAL_WIDTH dan VIRTUAL_HEIGHT
VIRTUAL_WIDTH = 432
VIRTUAL_HEIGHT = 243
Tambahkan konstanta tersebut di bawah baris yang memuat
WINDOW_HEIGHT = 720
Ubah fungsi love.load() menjadi sebagai berikut
function love.load()
    -- use nearest-neighbor filtering on upscaling and downscaling to prevent blurring of text 
    -- and graphics; try removing this function to see the difference!
    love.graphics.setDefaultFilter('nearest', 'nearest')

    -- initialize our virtual resolution, which will be rendered within our
    -- actual window no matter its dimensions; replaces our love.window.setMode call
    -- from the last example
    push:setupScreen(VIRTUAL_WIDTH, VIRTUAL_HEIGHT, WINDOW_WIDTH, WINDOW_HEIGHT, {
        fullscreen = false,
        resizable = false,
        vsync = true
    })
end

Tambahkan fungsi love.keypressed(key)
--[[
    Keyboard handling, dipanggil di setiap frame
]]
function love.keypressed(key)
    -- keys diakses menggunakan string name
    if key == 'escape' then
        -- keluar dari aplikasi
        love.event.quit()
    end
end
Kemudian update fungsi love.draw() sehingga menjadi sebagai berikut
function love.draw()
    -- begin rendering at virtual resolution
    push:apply('start')

    -- condensed onto one line from last example
    -- note we are now using virtual width and height now for text placement
    love.graphics.printf('Hello Pong!', 0, VIRTUAL_HEIGHT / 2 - 6, VIRTUAL_WIDTH, 'center')

    -- end rendering at virtual resolution
    push:apply('end')
end
Sehingga code lengkapnya adalah sebagai berikut
Kemudian tambahkan code push.lua dan simpan ke dalam folder yang sama dengan file main.lua.

File push.lua ini adalah library yang dapat menangani resolution handling, sehingga game developer bisa fokus membuat game dengan resolusi yang fixed. Jalankan script, hasilnya sebagai berikut
Kode program lengkap dapat diunduh di https://github.com/ardhiesta/pong

Comments