Opini : Beban Tri Dharma Dosen di Mata Dosen Pemula

Sudah 4 tahun saya menjalani profesi sebagai dosen, di rentang waktu yang bisa dibilang masih sebentar ini sejumlah pengalaman saya alami. Pada postingan ini saya akan memaparkan pandangan saya sebagai dosen newbie alias pemula terkait tugas dosen, terutama tri dharma perguruan tinggi yaitu : pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sejauh yang saya rasakan.


Pengajaran

Seperti guru, dosen harus mengajar. Yang diajar adalah mahasiswa, dengan berbagai kondisi. Menurut saya, pengajaran ini membutuhkan porsi yang lebih besar dibandingkan penelitian dan pengabdian. Mengapa saya bisa menyimpulkan demikian? Karena hampir setiap hari, dosen berurusan dengan mahasiswa. Pengajaran ini ibarat pintu masuk yang dapat mengantarkan mahasiswa menilai kualitas dosennya. Bagaimana impresi atau kesan mahasiswa terhadap dosen yang paling banyak didapat ketika interaksi pada proses pengajaran. Melalui interaksi dalam kegiatan belajar mengajar, seorang mahasiswa dapat memberikan penilaian pada seorang dosen apakah dosen tersebut menguasai bidangnya atau tidak. Dengan demikian menurut saya, dosen perlu mempersiapkan kegiatan pengajaran ini dengan maksimal, agar KBM di kelas dapat berjalan dengan menyenangkan dan mampu mencapai tujuannya yaitu menanamkan nilai atau pengetahuan kepada mahasiswa. 

Ini adalah tantangan bagi dosen pemula seperti saya, yang mana sebenarnya dibutuhkan kemampuan lain selain penguasaan materi, istilah yang sering saya dengar adalah kemampuan pedagogik. Selain harus menguasai materi, seorang dosen harus memahami karakter mahasiswa dan memiliki kemampuan untuk membawakan kegiatan belajar mengajar yang tidak sekedar membacakan materi saja. Ini lumayan sulit terutama bagi dosen yang belum memiliki bekal kompetensi tersebut, misalnya yang bukan lulusan FKIP. 

Agar pengajaran dapat berjalan maksimal setidaknya dosen harus merancang kegiatan pengajarannya selain harus menguasai materinya. Misal dengan merencanakan seperti apa tugas yang akan diberikan, atau kegiatan apa yang akan dilaksanakan di kelas selain ceramah membawakan materi. Jadi dosen ataupun guru itu memang tidak mudah.

Penelitian 

Selanjutnya adalah penelitian, ibaratnya kalau dulu sebagai mahasiswa dituntut untuk menghasilkan setidaknya 1x penelitian dalam bentuk skripsi, setelah menjadi dosen harus melakukan penelitian setiap tahun. Sebenarnya ini bukan hal yang sulit, setelah mengalami pahit getirnya skripsi dan tesis saya mulai memahami alur penelitian. Setidaknya untuk menggugurkan kewajiban bukan hal yang sulit.

Yang sulit dalam penelitian ini bagi dosen pemula yang adalah manajemen waktu. Seringkali dosen pemula diberikan lebih banyak tugas, diperbantukan dalam berbagai kegiatan dan tim kerja. Padahal tugas utama dosen membutuhkan fokus dan perhatian yang maksimal, misalnya dalam pengajaran yang perlu perencanaan matang tadi. Berbagai kegiatan di luar tugas utama yang dibebankan ke dosen seringkali malah menghabiskan waktu paling banyak. Dan akibatnya beberapa kali tugas utama yang harus dikorbankan. Saya sekarang bisa memahami mengapa dulu dosen saya sering mengosongkan jam, ya mungkin karena tugas-tugas tambahan yang terlalu menghabiskan waktu tersebut.

Tantangan lain dalam penelitian adalah bagaimana menghasilkan penelitian yang berkualitas. Sekali lagi, kualitas membutuhkan effort misalnya dalam hal waktu dan biaya. Waktu sudah tersita untuk sejumlah kegiatan. Biaya kadang juga menjadi kendala, dosen susah payah membuat karya yang berkualitas namun dosen tidak mendapat hasil secara ekonomis. Kreativitas dosen diperlukan agar kendala tersebut dapat diatasi. Untuk menghasilkan manfaat secara ekonomis misalnya, dosen perlu merancang output penelitiannya agar dapat "dijual" misalnya menjadi karya dalam bentuk buku atau portofolio untuk menyusun kepakaran dosen yang dapat menjadi nilai jual dosen dalam bidang yang ditekuninya.

Tantangan lain adalah masalah administrasi dan birokasi yang menurut saya lebih merepotkan dibandingkan urusan inti penelitian itu sendiri. Penelitian ada yang memang dibiayai, namun pelaporan pertanggungjawabannya terlalu menyita waktu, misal harus memikirkan pajak dan lain-lain. Saya sekarang mencoba untuk beralih ke penelitian mandiri, yang tidak ada pertanggungjawaban dana demi ketenangan batin. Sebaiknya juga penelitian dicicil, tidak perlu menunggu pengajuan proposal penelitian dibuka. Penelitian jalan terus, begitu ada pembukaan pengajuan proposal penelitian tinggal masukkan penelitian yang sudah dilakukan namun belum pernah dipublikasikan.

Pengabdian kepada Masyarakat

Selain mengajar dan melakukan penelitian, dosen juga dituntut untuk menyumbangkan keilmuannya melalui kegiatan pengabdian. Menurut saya ini seharusnya bisa lebih fleksibel, kegiatan pengabdian tidak harus dalam bentuk kegiatan yang bertatap muka langsung dengan masyarakat. Dosen menulis dan menyebarkan keilmuannya melalui berbagai media sebaiknya bisa masuk ke poin pengabdian juga. Selama ini kegiatan pengabdian bentuknya selalu kegiatan yang bertatap muka dengan masyarakat, sekali lagi masalahnya waktu. Beberapa kali saya dalam kegiatan pengabdian yang berkelompok dengan dosen lain sering tidak bisa full team semua berkontribusi karena kesibukan yang berbeda. Masalah lain hampir sama dengan penelitian yaitu administrasi dan birokrasi yang membutuhkan waktu paling banyak dibanding kegiatan intinya. 

Demikian opini saya mengenai tri dharma perguruan tinggi yang diemban oleh seorang dosen. Menjadi dosen tidak sesantai yang kita bayangkan, namun bukan berarti harus menyerah, tetap semangat para dosen pemula!

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Inheritance (Pewarisan) di Java

Contoh Penerapan Interface di Pemrograman Java

Deploy CodeIgniter 3 di Docker