Tentang Sinetron di Indonesiar

Baru-baru ini jamiatul intirnit geger gedhen setelah viralnya sebuah twit yang mengangkat sebuah tayangan sinitron kontroversial di sebuah statiun tv swasta. Kontroversi dipicu adanya pemeran di bawah umur yang diceritakan menjadi istri ketiga dan menjadi bulan-bulanan istri pertama dan kedua.

Pihak stasiun tv swasta tersebut juga menambah bumbu penyedap dalam geger gedhen tersebut, betapa tidak, di postingan sosial medianya mereka menambahkan judul postingan click bait yang menjurus ke arah yang memancing rasa penasaran jamiatul intirnit. Mari kita sebut saja nama stasiun tv tersebut Indonesiar.

Sebagai penikmat tayangan televisi, saya sudah lama merasakan acara-acara di Indonesiar ini sudah tidak worthed lagi untuk ditonton. Saya rasa hampir sebagian besar penonton yang menjunjung tinggi kualitas akan setuju dengan pendapat saya tersebut. Indonesiar sudah tidak memiliki ruh, stasiun tv ini sekarang terkenal dengan acara dangdutan yang durasinya bisa berjam-jam, yang mana lebih lama komentar juri dengan gimmick-gimmick yang tidak penting dibandingkan dengan durasi menyanyinya yang sebentar. Selain acara dangdutan, Indonesiar sekarang terkenal tentu saja karena sinitron. 

Ada beberapa genre sinitron yang ditayangkan oleh Indonesiar, pertama adalah sinitron azab yang menayangkan azab karakter yang melakukan kedzaliman. Yang membuat tidak habis pikir adalah judul sinitron azab ini yang bisa sangat panjang dan kadang tidak masuk akal. Anda tidak percaya? Mari kita lihat beberapa judul sinitron azab berikut :

Bumi Bergetar Mengiringi Pemakaman Perempuan Pengincar Mahar
Akibat Sumpah Palsu, Penjual Daging Culas Mati Terduduk dan Makamnya Penuh dengan Formalin
Suami Istri Musyrik, Sengsara Menjelang Ajal dan Jenazahnya Lenyap Karena Murkanya Alam

Sungguh terlalu klise dan kepanjangan judulnya, namun sangat kita sayangkan sinitron seperti inilah justru yang laku di masyarakat. Harus kita akui kalau masyarakat kita masih sangat konvensional, azab-azab sebagai pembalas kedzoliman seperti ini memang sangat diharapkan.

Genre sinitron kedua di Indonesiar adalah sinitron "kumenangis", yang mana trademarknya adalah soundtrack lagu "kumenangis" yang dinyanyikan oleh Rossa. Sinitron "kumenangis" bercerita seputar kisah salah satu anggota keluarga yang tersakiti, kadang istrinya, kadang suaminya. Kemudian ada tokoh antagonis yang menjadi pihak yang menyakiti. Biasanya berakhir dengan happy ending.

Saya merindukan Indonesiar jaman dahulu yang selalu dinantikan anak-anak di hari Minggu. Pada masa kejayaannya, di hari Minggu Indonesiar sudah mulai ditonton bahkan ketika anak baru bangun, jam 5 pagi hingga jam 12 siang. Kekhusyukan menonton Indonesiar pada hari Minggu baru akan terusik ketika ada siaran langsung Tinju Dunia. Ah sungguh kenangan yang sentimentil...

Comments