Opini Saya tentang AI Coding Assistant

Saat ini AI assistant untuk coding semakin mudah diakses ditandai dengan banyaknya IDE yang dilengkapi dengan tools tersebut, seperti di VS Code dan Antigravity. Saat ini sepertinya adalah era peralihan paradigma coding dari yang sebelumnya 100% code hasil generate manusia ke kode yang digenerate oleh mesin.


Dari sudut pandang sebagai pengamat teknologi, saya melihat ini adalah kemajuan, seperti menjadi saksi mata dari sebuah terobosan baru. Hampir 20 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2007 saya mulai memasuki dunia IT sebagai mahasiswa S1. Saat itu dunia coding sama sekali berbeda, tidak ada bayangan kalau code program bisa dihasilkan oleh komputer itu sendiri. Namun di sisi lain, kemajuan ini akan dibayar dengan sangat mahal. Rasanya ini pula yang sudah duluan dialami teman-teman di bidang kreatif seperti desain grafis yang tergerus oleh AI, makin banyak orang menyerahkan proses kreatif misalnya menggambar ke mesin dan menghasilkan gambar-gambar tanpa "jiwa". Demikian pula yang saya rasakan di dunia pemrograman. Kalau mengamati postingan dari para pemerhati coding, sudah banyak yang mengeluh banyaknya pull request tanpa makna hasil generate mesin yang dikirim ke program-program open source. Kode-kode program open source yang memang dibagikan awalnya untuk memberikan kebebasan pengguna komputer dari jerat program berbayar saat ini beralih sekedar jadi data training untuk AI assitant coding. Orang yang berkontribusi untuk membantu pengembangan program open source terasa sudah tidak sebanyak dulu, pengguna program lebih suka jadi pengguna saja.

Seperti halnya karya seni, program komputer juga adalah hasil proses kreatif manusia. Ada pula kerja keras, pengorbanan, pusing mikir berdarah-darah di balik proses belajar seorang programmer. Dan sekarang arahnya adalah hal tersebut diambil alih oleh mesin. Hal ini sulit dihindari sebagai dampak perkembangan teknologi, untuk programmer berpengalaman adanya AI assistant ini sangat membantu. Namun bagaimana dengan mahasiswa jurusan IT yang baru memasuki semester awal? Adanya AI assistant coding sangat rawan membuat mahasiswa men-skip proses belajar, pemahaman terhadap apa yang ada di balik barisan kode program bisa jadi sangat berbeda dengan para programmer veteran. Paling parahnya adalah kalau menjadikan AI assistant ini sebagai jalan pintas dan menggantungkan diri untuk memperoleh produk siap pakai.

Saya masih menunggu dan melihat perkembangan yang ada, bagaimana nanti sistem yang baru akan terbentuk. Yang jelas software engineering sudah berubah, tidak sama seperti 20 tahun yang lalu. Saat ini memang kode yang digenerate oleh AI assistant bisa dibilang belum bagus, namun entah dalam berapa tahun ke depan kualitasnya bisa jadi meningkat drastis. Sebagai akademisi, sebaiknya tidak menjadikan AI assistant coding ini sebagai sebuah black box yang kita hanya tahu memasukkan input dan menerima outputnya, apa yang ada di dalam black box tersebut haruslah dipahami dengan baik.

Demikian pula model pembelajaran di kampus sebaiknya juga disesuaikan. Sudah tidak cocok lagi menguji mahasiswa untuk membuat program, atau melengkapi source code karena itu bisa dijawab mudah oleh mesin. Menurut saya semuanya harus kembali ke dasar: belajar agar paham. Bagaimana mahasiswa belajar untuk bisa memahami coding itulah yang harus diujikan. Mesin bisa menulis kode, mesin bisa membuat program namun manusia tidak boleh sepenuhnya bergantung pada mesin, manusia punya kontrol dan harus paham terhadap apa yang dilakukan.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Inheritance (Pewarisan) di Java

Review Singkat Pilihan Transportasi Umum Rute Solo - Wonosobo

List Jurnal Ilmu Komputer / Informatika Terakreditasi SINTA