Review Android Studio 2026
Setelah bertahun-tahun hiatus dari pemrograman Android, di awal 2026 ini saya mencoba menengok kembali tools Android Studio yang dikenal semakin rakus resource komputasi dan memori itu.
Ukuran File Android Studio + SDK
Saya mengunduh Android Studio Otter 3 Feature Drop (2025.2.3.9) versi Linux yang dikemas sebagai sebuah file kompresi .zip, ukuran filenya sudah mencapai 1,4 GB.
![]() |
| ukuran installer (.zip) Android Studio versi Linux |
Setelah diekstrak, ukuran folder hasil ekstraknya mencapai 3,3 GB belum termasuk SDK Android dan image emulator Androidnya.
| folder hasil ekstrak Android Studio |
Bagaimana dengan ukuran SDK dan image emulatornya?
![]() |
| ukuran folder Android SDK |
Setelah saya cek, ukuran folder Android SDK mencapai 3,7 GB. Saya baru menginstall SDK untuk Android 16.0 (API level 36.0). Jadi untuk membangun aplikasi Android pakai IDE Android Studio paling tidak kita sudah menghabiskan 3,3 + 3,7 = 7 GB ini baru IDE + SDKnya belum nanti ketambahan dependensi library yang diunduh oleh Gradle. Hal ini jauh berbeda dengan awal-awal munculnya Android yang IDEnya masih pakai Eclipse + plugin Android.
Konfigurasi Project Android
Saya coba untuk membuat project di Android Studio
![]() |
| build configuration language |
Yang menarik perhatian saya adalah bagian Build configuration language, sekitar 7 tahunan lalu engga ada pilihan ini. Sebenarnya ini apa sih? Setelah googling saya kurang lebih menyimpulkan ini adalah pilihan bahasa yang digunakan untuk menulis Gradle build script di dalam project. Kalau dulu secara default pakai Groovy DSL yang disimpan di dalam file build.gradle. Nah sekarang ini ada opsi baru yaitu menggunakan Kotlin DSL yang disimpan ke dalam file bernama build.gradle.kts. Perubahan default Gradle build configuration language ini agar lebih terintegrasi dengan Kotlin yang digunakan sebagai bahasa pemrograman default dalam project Android. Pas bikin projeci ini sekarang udah ga bisa milih bahasa pemrograman Java atau Kotlin, dulu ada opsi untuk memilih bahasa pemrograman yang mau dipakai ini.
![]() |
| perbandingan sintaks build.gradle dan build.gradle.kts |
Secara umum sintaksnya tidak berbeda jauh antara build.gradle yang masih pakai Groovy dengan build.gradle.kts yang pakai Kotlin.
Kesan Pertama
Setalah generate project selesai dilakukan, saya menemukan kalau sepertinya masalah security jadi concern serius di Android Studio sekarang. Android Studio mengaktifkan Safe mode, apa pula ini? Dulu engga ada. Trus ada popup yang ngasih tahu adanya Agent Mode, apa ini. Nanti akan saya update lagi untuk penjelasannya.
![]() |
| setelah generate Project |
Konsumsi Resource
Hal paling ditunggu karena sudah menjadi isu sejak lama, penggunaan resource. Saya mengamati sejak masih aktif coding Android kalau environment Android Studio ini makin menuntut resource komputasi dan memori yang besar. Sekarang saya menggunakan laptop yang udah mendingan, RAM 32 GB dan prosesor Core Ultra 5 225H dengan 14 core dan 14 thread. Dengan kondisi membuka Firefox dan Android Studio setidaknya 3,2 GB udah habis dipakai. Menurut saya memang sekarang sebaiknya developer Android membekali diri dengan piranti yang mumpuni, prosesor multi core generasi baru dan memory RAM besar setidaknya 16 GB.
![]() |
| penggunaan resoource |
Ini juga salah satu alasan saya pakai Linux walaupun RAM laptop udah gedhe namun rasanya engga sia-sia habisin 3,2 GB udah buka Android Studio + Firefox beberapa tab. Kalau di Windows 11 angka penggunaan RAM di atas 3 GB itu baru kondisi idle belum buka program apa-apa.
![]() |
| Windows 11 kondisi idle, sebagai pembanding saja |
akan diupdate lagi nanti...







Comments
Post a Comment