Bagaimana Saya Menyikapi AI
Saya merasa sekarang adalah masanya terjadi perubahan paradigma dalam bidang rekayasa perangkat lunak akibat maraknya penggunaan AI. Kalau dulu source code dipandang sebagai hasil kerja kasar manusia, sekarang source code tersebut dengan mudah bisa digenerate oleh mesin dan ini terus berkembang. Di postingan sebelumnya saya merasa fenomena ini akan mengurangi nilai dari coding craftsmanship. Saat ini juga sebagian interaksi yang terjadi di internet, misalnya di medsos, dilakukan oleh mesin lewat adanya akun-akun hasil generate AI.
Sebagai dosen jurusan IT saya juga menggunakan AI untuk membantu proses coding dengan sejumlah prinsip sebagai berikut
1. AI adalah tools, bukan pengganti manusia
Tidak bisa dipungkiri bahwa generative AI dan model-model AI agent yang terus bermunculan ini sudah mampu menghasilkan source code program *dengan kualitas generated code yang beragam, tergantung model dan manusia yang mendesain konfigurasinya. Namun sebagai akademisi saya tetap menempatkan AI sebagai tools untuk membantu. Misalnya saya menanyakan maksud dari sejumlah baris code ke AI untuk memperoleh pemahaman mengenai proses yang dilakukan. Adakalanya saya meminta AI untuk menggenerate file code, namun proses review dan debugging tetap saya lakukan karena AI gratisan hasil codenya jelek, wkwk maksud saya karena memang demikianlah saya memilih manusia lah yang harus belajar.
2. Tetap skeptis
Saya mulai merasa chatting dengan AI mengurangi proses googling yang sebelumnya sering saya lakukan. AI mampu menjawab pertanyaan saya dengan ringkas, sedangkan kalau googling saya harus melakukan lebih banyak hal termasuk lebih banyak membuka dan membaca informasi dari banyak link. Namun adakalanya jawaban dari AI tidak update atau memberikan sumber URL yang ternyata tidak bisa diakses. Alangkah baiknya tetap dilakukan perbandingan dengan sumber informasi lain, sebagus apapun model AInya, manusia harus tetap skeptis atau tidak mudah percaya dengan AI.
3. Hargai hasil kerja manusia
AI tidak mungkin bisa berkembang kalau tidak ada hasil kerja manusia sebelumnya. Misal agent AI yang bisa generate code itu sebenarnya mempelajari pola dari source code yang dihosting programmer di public repository, AI tidak bisa bekerja tanpa adanya data untuk dipelajari. Sebenarnya programmer senang sekali ada mesin yang bisa menggantikan dirinya mikir, namun ironisnya hasil kerja mereka yang dipakai AI belajar saat ini tidak dihargai walau hanya recehan malah programmer harus bayar biaya langganan buat pakai tools AI itu wkwk. Memang sih ada yang gratisan tapi biasanya ada limit atau outputnya ga sebagus yang berbayar. Saya merasa kita tetap harus memberikan apresiasi kepada programmer manusia yang telah menghasilkan source code tanpa bantuan mesin.
4. Tidak fomo berlangganan AI berbayar
Ini lebih tepatnya karena masalah kesejahteraan saja. Model AI berbayar terasa begitu mahal untuk pada umumnya dosen di Indonesia. Sebagai contoh Claude Pro yang paling murah itu sudah hampir 300 ribu sementara masih banyak kebutuhan keluarga yang lain.
![]() |
| harga langganan Claude Pro |
Akhirnya saya melakukan redeem Github Education dengan menggadaikan data pribadi saya sebagai dosen untuk mendapat akses ke Github Copilot pro yang menawarkan model AI dengan limit yang lebih lega. Di satu sisi ini cukup membantu, tapi kepikiran juga harus ngobral data wkwk eh sudah biasa ya ini di negara open source.

Comments
Post a Comment