Vibe Coding Atau Engga Nih?

Sebagai tukang ketik (programmer) yang dibesarkan di era Stackoverflow, saya memahami sepertinya memang sekarang terjadi pergeseran paradigma pemrograman. Saat ini yang terjadi adalah senjakala paradigma coding sebagai 100% pekerjaan manusia berganti menjadi coding adalah pekerjaan yang dilakukan mesin. 

Di satu sisi saya bisa memahami kalau memang coding juga fana, akan ada masanya programmer menjadi pekerjaan yang kurang prestige. Perkembangan teknologi yang disetir oleh kapitalisme sayangnya memang tidak bisa dibendung, termasuk soal AI dalam percodingan. Adanya AI agent untuk coding sudah mulai umum digunakan dan memang sangat membantu. Namun di sisi lain saya juga kontra dengan AI agent coding ini karena alasan berikut :

1. Hilangnya coding craftsmanship 

Saya memandang source code layaknya sebuah karya seni konvensional lainnya seperti lukisan, sajak, atau patung. Butuh keterampilan, bakat, ketelitian, ketekunan, keahlian, dan proses tak kenal lelah untuk menghasilkan source code berkualitas yang tidak sekedar hanya bisa di-run namun juga terdokumentasi dengan baik, minim bug, dan mudah dimaintenance. Semua hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh manusia, ada jiwa, ada karakter yang membentuk cource code. Membaca source code berkualitas yang ditulis oleh orang lain selalu terasa luar biasa karena saya seolah menyelami karakter orang tersebut, memahami luar biasanya keahlian dia, dan bagaimana proses belajar panjang dan menyakitkan yang ia lalui untuk bisa mencapai kualitas source code yang mengagumkan. Namun dengan adanya AI agent untuk coding saat ini, source code dihasilkan oleh mesin, tentu saya tidak bisa memandang mesin sebagai orang berkarakter yang menulis source code berjiwa tersebut. Memang sih programmer yang paham tentunya akan memberikan sentuhan manusia melalui pengeditan generated code, namun dengan semakin majunya mesin entah kapan bisa saja generated code mentahan dari AI bisa langsung dipakai untuk production. Ketika titik itu tercapai, craftsmanship dalam coding bisa dikatakan sudah punah. Peradaban dunia ini seharusnya menyesal telah menghilangkan konsep menulis source code sebagai karya seni.

2. Kapitalisme

Menurut buku Ndas Kapital saya, AI agent ini adalah sebuah akal-akalan para kapitalis. Programmer berpengalaman memang sangat terbantu dengan adanya AI agent untuk coding, namun perusahaan penyedia layanan AI agent ini (dan negaranya) tentunya lebih untung. Bagaimana tidak, harga langganan layanan AI agent ini bisa dikatakan mahal untuk warga negara dunia ketiga. Sebagai contoh adalah Claude Code yang banyak dipakai oleh vibe coders berpengalaman. Untuk harga termurahnya sudah mencapai 17 USD atau lebih dari 290 ribu Rupiah per bulan. Programmer pemula di Indonesia yang bekerja dengan gaji UMR kabupaten atau mahasiswa IT dari keluarga menengah tentunya akan mikir-mikir buat subscribe layanan yang harganya mencapai 29 liter Pertalite atau setara dengan 0.02 detik MBG tersebut. Lain halnya dengan programmer atau mahasiswa kaya, tentu sudah tidak mikir lagi buat berlangganan. 

harga langganan Claude Code

Kalaupun ada AI untuk coding yang gratis, fiturnya tidak secanggih AI agent premium yang sudah terkenal reputasinya. Layanan AI agent yang lebih murah juga memiliki keterbatasan misalnya dalam kemampuan model AInya yang lebih sederhana atau limit token yang lebih kecil, dalam hal ini kemampuan menghasilkan source code yang bagus sudah ditentukan oleh seberapa tebal kantong yang kita punya, sungguh kapitalis sekali.

Apakah saya melakukan vibe coding?

Sayangnya karena kebutuhan, saya harus melakukan vibe coding namun disesuaikan dengan budget dan prinsip "AI hanyalah alat, manusia harus paham codenya".

history chat saya dengan Copilot di VS Code

Sebagai orang IT yang belum kaya, saya menggunakan layanan Copilot di VS Code dengan meredeem paket Github Education. Dengan melampirkan bukti bahwa saya adalah seorang dosen, saya berhasil mendapat Copilot pro dari github secara gratis sehingga saya bisa mengakses model AI yang lebih bervariasi dan limit yang lebih besar. Copilot di VS Code lebih banyak saya gunakan untuk memahami jalannya code dan belajar bahasa pemrograman baru. Sesekali saya pecut Copilot untuk menghasilkan code, beberapa memang bisa langsung work namun kalau engga pakai model AI tercanggih yang paket langganannya paling mahal memang hasil generate code tidak bisa langsung digunakan, pasti ada celah errornya. 

Saya rasakan AI agent ini memang membantu, namun sebagai akademisi saya akan selalu menekankan jangan memandang AI agent ini sebagai blackbox. Orang IT harus tahu apa saja di balik kecanggihan AI agent dan tetap skeptis bagaimanapun canggihnya dan seberapapun bagusnya jawaban atau code yang dihasilkan AI. Saya masih mendambakan craftsmanship dalam menulis code tidak hilang, namun entah sampai kapan ini bisa dijamin.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Inheritance (Pewarisan) di Java

Review Singkat Pilihan Transportasi Umum Rute Solo - Wonosobo

List Jurnal Ilmu Komputer / Informatika Terakreditasi SINTA