Kuliah Online (Sampai Kapan?)

Pandemi Covid-19 sudah berlangsung sekitar 10 bulan sejak Maret 2020 hingga sekarang dan belum menunjukkan tanda-tanda kondisi yang membaik. Pertambahan jumlah konfirmasi positif Covid-19 setiap harinya masih tinggi di kisaran 5000-6000an orang dan jumlah kematian yang juga masih bertambah. Walaupun akumulasi jumlah yang sembuh juga meningkat, namun tak bisa dipungkiri pandemi masih menghambat aktivitas kita yang tidak bisa sebebas dahulu sebelum coronavirus menyerang.

Aktivitas sehari-hari berubah, kita makin akrab dengan penggunaan teknologi untuk menghubungkan kita dengan dunia luar. Termasuk kuliah, guna menghindari kumpulan orang dalam jumlah banyak pembelajaran jarak jauh menjadi ujung tombak di kampus.

Tak terasa sudah 1 semester lebih kita menjalani kelon (kelas online 😀) dengan segala dinamikanya. Saya mencatat di awal pandemi lalu banyak aksi protes dari rekan-rekan mahasiswa yang menyayangkan mereka tidak mendapat bantuan subsidi kuota yang menjadi kebutuhan pokok selama pandemi. Dengan UKT yang besar, potongan 100K atau 200K untuk subsidi kuota dirasa sangat mungkin dilakukan. Namun apa daya, birokrasi dan administrasi menjadikan itu semua sulit di negara kita ini. Syukurlah kemudian Kemdikbud akhirnya memberi bantuan kuota internet yang dapat membantu meringankan beban para mahasiswa.

Keluhan juga muncul terkait kualitas pembelajaran. Tak bisa dipungkiri, pembelajaran jarak jauh memiliki plus dan minusnya. Hambatan jarak bisa diatasi menggunakan teknologi namun pengalaman pembelajaran tatap muka akan sulit ditemui pada pembelajaran jarak jauh. Saya mencatatat setidaknya beberapa kali di media sosial sering muncul keluhan mahasiswa hanya mendapat slide ppt tanpa adanya interaksi dengan dosen selama kuliah online. Hal ini patut disayangkan, namun di sisi lain mahasiswa juga memiliki tuntutan untuk menjadi mandiri. Mari kedua belah pihak saling introspeksi dan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Melihat perkembangan pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan perkembangan yang signifikan, mulai muncul keresahan pada diri saya. Sampai kapankah kita harus menjalani kuliah secara online. 2 semesterkah, atau 3 semesterkah, atau bahkan lebih dari 4 semester?
Tantangan di depan semakin berat, semakin lama proses kuliah online berlangsung baik mahasiswa maupun dosen dituntut untuk beradaptasi. Menurut saya proses online ini sebenarnya tidak menjadi masalah, terutama untuk orang-orang yang mampu menerapkan konsep belajar mandiri. Namun tentu akan sangat berbeda bagi orang-orang yang tidak memilikinya. Saya berharap semoga para mahasiswa dan dosen semuanya mampu bertahan dan mampu mengatasi tantangan ini untuk dapat membelajarkan diri dan mendirikan pembelajaran yang tujuan akhirnya untuk kemajuan bangsa.

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Inheritance (Pewarisan) di Java

Deploy CodeIgniter 3 Menggunakan Docker

Physical address dan Logical Address (1)